Tags: bantuan tunai langsung, blt, kebijakan pemerintah, kenaikan harga bbm
Keinginan pemerintah untuk tetap menaikkan harga BBM ternyata bukan isapan jempol. Walaupun dengan menerapkan kebijakan tersebut pemerintah sudah melanggar janjinya sendiri yang pernah disampaikan melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Sugiantoro melalui konferensi pers pada tanggal 22 Oktober 2007 yang mana mengatakan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM bersubsidi hingga tahun 2009. Memang saat ini situasinya tidaklah serunyam saat ini dimana sekarang harga minyak dunia naik sangat tinggi. Bahkan kenaikan harga minyak dunia ini telah mengakibatkan situasi politik dan sosial menjadi sangat panas di berbagai negara.
Yang jelas saat ini ada pihak yang sangat mendukung kebijakan pemerintah ini, dan di lain pihak ada juga yang sangat menentangnya. Semua alasan dan landasan pikir yang dikemukakan semua pihak sama dianggap benar. Pemerintah ingin menyelamatkan APBN dan pihak yang kontra ingin mengungkapkan dilema sosial di masyarakat akibat kenaikan tersebut. Saya sangat simpati dengan ulasan saudara Asruldin Azis dalam blognya yang memaparkan dengan jelas dan berdasarkan statistik mulai dari kebutuhan minyak bumi sampai dengan peraturan dan perundangan. Sementara itu saudara Priyadi juga tahun 2005 pernah menuliskan masalah ini juga. Masih banyak tulisan dan berita lainnya yang sudah kita baca dan dengar, baik melalui blog-blog, media online, maupun televisi. Semua sudah jelas. Alasan di balik kebijakan. Alasan penentangan. Dan berbagai solusi yang dikemukakan.
Tetapi kenapa kenaikan harga BBM ini juga menunggu persiapan Bantuan Tunai Langsung (BLT) yang dijelaskan sebagai kompensasi atas kenaikan harga BBM tersebut? Padahal program BLT sendiri masih sangat riskan dilakukan dan masih banyak pertentangan di masyarakat. Sepertinya program BLT itu sendiri bukan merupakan satu program permanen yang memang bertujuan jangka panjang, sedangkan kenaikan harga BBM akan berdampak jangka panjang. Baru digulirkan kalau bakalan ada kebijakan pemerintah yang tidak berkenan. Bahkan jadinya seperti menyogok masyarakat untuk diam sesaat. Seperti anak kecil yang menangis minta dibelikan sepeda namun lalu diberikan kembang gula. Dan sekali lagi, jelas terlihat dan dirasakan ada apa dan mengapa kenaikan harga BBM dipaketkan dengan program BLT.
Sudah sama kita rasakan dan lihat kenyataan berbagai program yang telah dijalankan pemerintah yang sebenarnya (menurut pemerintah) ditujukan untuk membantu masyarakat miskin ternyata tidak dapat berjalan dengan semestinya. Program konversi energi dari minyak tanah ke gas yang ternyata sangat buruk pelaksanaannya. Minyak tanah naik harganya, tabung dan gas tidak ada di pasaran. Warung nasi dan gorengan yang kebayakan dari masyarakat kalangan bawah dan pinggiran banyak yang tutup. Belum lagi program-program seperti di bidang kesehatan dan perumahan.
Omong-omong… berapa banyak sih uang yang mau diberikan program BLT ini untuk setiap keluarga? Ternyata Rp. 100.000/bulan/kepala keluarga. Duh jadi miris sekali hati ini. Apalagi masih ingat kejadian saat BLT yang lalu. Banyak sekali (bahkan beratus-ratus ribu) orang berjubel-jubel berdesak-desakan di kantor pos untuk menanti gilirannya. Ada yang tertawa sedih ketika mendapat kenyataan jumlah uang yang diterimanya hanya cukup untuk makan sekeluarga selama sepuluh hari. Namun mereka tetap tabah dan menerimanya. Ada yang menjerit-jerit menangis dikarenakan kebetulan pas gilirannya loket sudah tutup. Namun mereka tetap tabah dan berekad untuk tidur di sana menunggu pagi esok hari. Namun ada juga yang sampai pingsan, entah dikarenakan panas dan lapar atau terjepit di sisi pagar yang sempit dan di tengah desakan ribuan orang. Dan sebentar lagi pemandangan miris ini akan terlihat kembali.

















2 Comments, Comment or Ping
noran sans
aksi protes aku , aku implementasikan GOLPUT
May 31st, 2008
aRuL
saya juga masih meragukan BLT bisa memberikan solusi kepada masyarakat..
*btw makasih sudah membaca blog saya*
Jul 8th, 2008
Reply to “Kenaikan harga BBM dan Bantuan Langsung Tunai (BLT)”